Selasa, 02 Agustus 2016

Maafkan Aku yang telah membuatmu lelah

Sayangku..
Maafkan jika aku telah membuatmu lelah,
Maafkan jika aku telah membuatmu sedih,
Maafkan jika aku tak pernah memahamimu,
Tolong jangan biarkan aku berdosa atas kesalahan yang tak aku sadari
Maafkan..

Kisah Nabi Muhammad SAW dan Pengemis Buta yang Mengharukan

Terdapatlah seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari menempati salah satu sudut pasar di Kota Madinah. Bukan cuma mengemis, Ia juga berseru kepada orang-orang yang berlalu-lalang di pasar tersebut, “Jangan dekati Muhammad! Jauhi dia! Jauhi dia! Dia orang gila. Dia itu penyihir. Jika kalian mendekatinya maka kalian akan terpengaruh olehnya.”
Teriakannya yang keras tak terlewatkan oleh seorang pun yang berjalan di dekatnya. Setiap kali ada yang terdengar langkah kaki orang melewatinya, pengemis buta itu selalu mengumpat Rasulullah Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam, dan mengatakan Muhammad adalah tukang sihir, orang gila dan sebagainya.


Pengemis Yahudi buta itu hampir setiap hari di temani oleh seseorang di sampingnya. Orang tersebut dengan lemah lembut dan kasih sayang menyuapi pengemis yang hampir tidak pernah berhenti untuk menghina dan merendahkan Muhammad SAW. Orang tersebut hanya terdiam saat teriakan makian dan hinaan itu keluar dari mulut Yahudi buta tersebut. Ia terus menyuapi makanan ke mulut pengemis itu hingga habis.
Sampai pada suatu hari, si Pengemis Yahudi Buta tidak lagi ditemani lagi oleh orang yang menyuapinya. Kemudian datanglah orang lain yang membawakan nasi bungkus untuknya dan menawarkan diri untuk menyuapinya.
Orang lain yang menawarkan diri untuk menyuapi pengemis buta yang tidak berhenti merendahkan Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam tersebut adalah sahabat terbaik Rasulullah, Abu Bakar Ash Shiddiq. Hati dan kepala Abu Bakar mendidih mendengar sumpah serapah pengemis Yahudi tersebut.
Namun Abu Bakar menahan diri dan berusaha dengan lemah lembut menawarkan diri untuk memberi makan kepada pengemis buta tersebut. Namun bukan rasa terimakasih yang di dapat oleh Abu Bakar, jusru penyangkalan dan hardikan keras dari pengemis tersebut.
Kau bukan orang yang biasa memberiku makanan,” hardik si pengemis buta.
Aku orang yang biasa,” kata Abu Bakar.
Tidak. Kau bukan orang yang biasa ke sini untuk memberiku makanan. Apabila dia yang datang, maka tak susah tangan ini memegang dan tak susah mulutku mengunyah. Dia selalu menghaluskan terlebih dahulu makanan yang akan disuapinya ke mulutku.” Begitulah penyangkalan si pengemis buta kepada Abu Bakar.

Mendengar perkataan pengemis buta tersebut, Abu Bakar tak kuasa membendung rasa harunya. Air matanya tumpah tak tertahankan, dadanya turun naik, Beliau menangis sampai terisak-isak.
Salah satu sahabat terbaik Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam itupun berkata, “Memang, benar, Aku bukan orang yang biasa datang membawa makanan dan memberimu suapan atas makanan itu. Aku memang tidak bisa selemah lembut orang itu.”

“Ketahuilah bahwa Aku adalah salah satu sahabat orang yang setiap hari menyuapimu tersebut. Orang yang dulu biasa ke sini dan memberimu makan dan menyuapimu telah wafat. Aku hanya ingin melanjutkan amalan yang ditinggalkan orang tersebut, karena Aku tidak ingin melewatkan satu pun amalannya setelah kepergiannya.”
Si pengemis buta Yahudi tersebut terdiam sejenak dan bertanya kepada Abu Bakar siapa orang yang selama ini  memberinya makan dan juga menyuapinya.

“Ketahuilah, bahwa Ia adalah Muhammad, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang yang setiap hari kau hinakan dan kau rendahkan di depan orang banyak di pasar ini,” jawab Abu Bakar kepada pengemis buta itu.
Si pengemis Yahudi yang buta itu tertegun. Tak ada kata kata yang keluar dari mulutnya, namun tampak bibirnya bergetar. Air mata pengemis buta itu perlahan jatuh membasahi pipinya yang mulai berkeriput.
Si pengemis buta tersadar, betapa orang yang selama ini ia hinakan justru memperlakukannya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Ia justru malah merasa lebih hina dari apapun yang ada di dunia ini.
“Selama ini aku telah menghinanya, memfitnahnya, bahkan saat Muhammad ada di sampingku sedang menyuapi aku. Tapi dia tidak pernah memarahiku. Dia malah dengan sabar melembutkan makanan yang di masukkan ke dalam mulutku. Dia begitu mulia.” Kata pengemis buta dalam tangisnya.
Pada saat itu juga, Si Pengemis Yahudi buta bersaksi di hadapan Abu Bakar Ash Shiddiq, mengucapkan dua kalimat syahadat ‘La ilaha illallah. Muhammadar Rasulullah.’ Si Pengemis buta memilih memeluk Islam setelah cacian dan sumpah serapahnya kepada Muhammad SAW dibalas dengan kasih sayang oleh Nabi Akhir Zaman tersebut.

Demikianlah kisah keteladanan Rasulullah Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam yang sebaiknya dicontoh oleh umat Beliau. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam di Hari Penghakiman kelak.. Amiin


Senin, 01 Agustus 2016

Pecinta Yang perindu

Menggambarkan arti rindu ini sedikit rumit dan aneh,
hanya jiwa pecinta yang perindu yang bisa merasakan,
saking rindunya hatiku, kamu di depan mata aja aku masih rindu,

setiap kedipan mata aku ingat kamu, aku begitu cemburu kalau kamu tak ada, 
gelisah mencengkram hati, kamu tak pernah tau jika aku tak sanggup kalau jauh darimu, aku tak mau kehilangan cintamu..

Minggu, 31 Juli 2016

Ketulusanmu

Terkadang aku termangu sendiri mengingat semua kesalahan yang pernah aku buat padamu,
setahun lebih telah berlalu dan kamu tetap disana tak pernah berubah, cintamu yang tersembunyi dalam senyum ketulusan, kesabaranmu menghadapi semua tingkah konyolku.

kasih sayangmu mengingatkanku pada hadist “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap istriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi).

terima kasih untuk selalu memahamiku..

 

Dalam pelukan Kasihmu

Hadirmu begitu indah menghiasi taman hidupku,
bermekaran bunga-bunga mengharum karenamu,
semilir angin sejuk menentramkan jiwa yang resah,
sentuhan jiwamu yang penuh kasih meninabobokanku,
pelukan cintamu membuat aku meninggalkan duniaku..
Semakin hari semakin rasa cinta menggelora tanpa kendali,
dalam pelukan kasihmu aku terbuai dalam surga yang terindah
tetaplah mencinta dan jangan pernah lelah saling memiliki dan menyayangi..

Jumat, 29 Juli 2016

Dalam bayang-bayang malam


Bismillahirrohmanirrohim...

Malam merambat perlahan menyibak gelap, mata belum juga terpejam,
pikiran terus menyibukanku dengan segala tentangmu, 
hadirmu kuharap dalam penantian panjangku,
memberikan oase dalam kehidupan gersangku..

Rinduku mulai melayang dan terlelap dalam bayang-bayang malam,
cintamu begitu candu yang menghidupkan batinku,
resah gelisah lirih dari bibir yang tak berhenti menyebut namamu,
hanya Allah swt yang tau begitu cinta ini seperti mengakar kuat dalam jiwa,
jangan pernah berpaling wahai cintaku...

 

Penantianku

Setiap penantian pasti ada akhirnya,
begitu pula denganku yang setia menantikan kehadiran terkasih,
tak ada rasa jenuh sedikitpun di hati, semakin hari semakin kuat rasa sayang
yang terpendam.
Seandainya dengan menunggumu cara untuk bahagia, aku akan menunggumu sampai kapanpun
bagiku penantian memang menghabiskan waktu dari sisa umur, namun kesabaran dan keikhlasan dalam ketaatan kepada Allah akan mendatangkan pilihan Allah yang terbaik bagiku Insyallah..