Senin, 01 Agustus 2016

Pecinta Yang perindu

Menggambarkan arti rindu ini sedikit rumit dan aneh,
hanya jiwa pecinta yang perindu yang bisa merasakan,
saking rindunya hatiku, kamu di depan mata aja aku masih rindu,

setiap kedipan mata aku ingat kamu, aku begitu cemburu kalau kamu tak ada, 
gelisah mencengkram hati, kamu tak pernah tau jika aku tak sanggup kalau jauh darimu, aku tak mau kehilangan cintamu..

Minggu, 31 Juli 2016

Ketulusanmu

Terkadang aku termangu sendiri mengingat semua kesalahan yang pernah aku buat padamu,
setahun lebih telah berlalu dan kamu tetap disana tak pernah berubah, cintamu yang tersembunyi dalam senyum ketulusan, kesabaranmu menghadapi semua tingkah konyolku.

kasih sayangmu mengingatkanku pada hadist “Sebaik-baik orang diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap istrinya, dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik terhadap istriku.” (HR.Thabrani & Tirmidzi).

terima kasih untuk selalu memahamiku..

 

Dalam pelukan Kasihmu

Hadirmu begitu indah menghiasi taman hidupku,
bermekaran bunga-bunga mengharum karenamu,
semilir angin sejuk menentramkan jiwa yang resah,
sentuhan jiwamu yang penuh kasih meninabobokanku,
pelukan cintamu membuat aku meninggalkan duniaku..
Semakin hari semakin rasa cinta menggelora tanpa kendali,
dalam pelukan kasihmu aku terbuai dalam surga yang terindah
tetaplah mencinta dan jangan pernah lelah saling memiliki dan menyayangi..

Jumat, 29 Juli 2016

Dalam bayang-bayang malam


Bismillahirrohmanirrohim...

Malam merambat perlahan menyibak gelap, mata belum juga terpejam,
pikiran terus menyibukanku dengan segala tentangmu, 
hadirmu kuharap dalam penantian panjangku,
memberikan oase dalam kehidupan gersangku..

Rinduku mulai melayang dan terlelap dalam bayang-bayang malam,
cintamu begitu candu yang menghidupkan batinku,
resah gelisah lirih dari bibir yang tak berhenti menyebut namamu,
hanya Allah swt yang tau begitu cinta ini seperti mengakar kuat dalam jiwa,
jangan pernah berpaling wahai cintaku...

 

Penantianku

Setiap penantian pasti ada akhirnya,
begitu pula denganku yang setia menantikan kehadiran terkasih,
tak ada rasa jenuh sedikitpun di hati, semakin hari semakin kuat rasa sayang
yang terpendam.
Seandainya dengan menunggumu cara untuk bahagia, aku akan menunggumu sampai kapanpun
bagiku penantian memang menghabiskan waktu dari sisa umur, namun kesabaran dan keikhlasan dalam ketaatan kepada Allah akan mendatangkan pilihan Allah yang terbaik bagiku Insyallah..

Rabu, 27 Juli 2016

Bahagiaku ketika melihat senyummu

Kamu yang terbaik dari yang terbaik yang pernah singgah dalam hidupku,
entah apa yang membuat aku selalu memikirkanmu, setiap saat hatiku merasa bahagia ketika mengingatmu, cinta terasa mekar bagai bunga yang harum semerbak memenuhi hatiku, bahagiaku ketika membayangkan senyummu..

seakan tak habis kebahagian itu jika mengingat satu per satu tentangmu,
detik berganti menit, menit berganti jam, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, semua terisi kamu dan semua kejenakaanmu, memilikmu adalah anugerah terindah dalam hidupku,
aku menyayangi dan merindumu tanpa batas waktu...

Al Khansa radhiyallahu’anha: Wanita Penyabar, Ibu Para Mujahid

Ia adalah Al-Khansa’, namun nama sebenarnya adalah Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah. Al Khansa’ merupakan seorang sahabat wanita yang mulia dan sangat terkenal sebagai penyair. Al-Khansa’ wanita yang bijaksana dan cerdas. Semua orang mengetahui kedudukan dan keahliannya yang luar biasa dalam berpuisi. Bahkan, semua sastrawan sepakat bahwa tidak ada wanita yang memiliki kekuatan puisi yang lebih hebat dari Al-Khansa’, baik di masa lalu maupun masa berikutnya.

Selain mahir berpuisi, sebenarnya Al-Khansa’  juga memiliki kepribadian yang sangat kuat, akhlak mulia, pandangan yang tajam, sabar dan berani.

Masuk Islam 
Takdir Allah Swt akhirnya menghendaki iman berarak di atas Al-Khansa’ yang kemudian menumpahkan air hujan keimanan ke dalam dadanya, hingga iman menyentuh lubuk hatinya yang paling dalam dan memberi denyut kehidupan hakiki kepadanya. Al-Khansa’ bangkit dengan menepis debu-debu jahiliyah dan mengusung panji tauhid untuk memberi pelajaran kepada seluruh jagat raya yang tidak akan dilupakan dalam catatan sejarah sepanjang masa.
Al-Khansa’ ikut dalam rombongan kabilahnya, Bani Sulaiman, untuk menemui Nabi Saw. dan menyatakan keislamannya. Al-Khansa’ sangat sedih dan menangisi perjalanan hidup yang telah dilaluinya yang jauh dari cahaya iman dan merasa telah tertinggal begitu jauh dari sekian banyak kebaikan. Untuk itu, ia bertekad untuk mengejar ketertinggalannya dan rela mengorbankan apa saja yang dimiliknya demi membela agama yang agung ini.
Keadaannya berubah total setelah ia masuk Islam, ujian yang dialaminya menjadi kesabaran yang didasari iman dan dihiasi oleh takwa, hingga ia tidak lagi merasa sedih ketika kehilangan apa pun dari kenikmatan duniawi ini.
Ketika Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berangkat ke Qadisiyah di masa Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, Al-Khansa’ turut berangkat bersama keempat puteranya untuk menyertai pasukan tersebut.
Empat putera kandung Al-Khansa’ yang merupakan buah hati dan denyut jantungnya, bergabung dengan pasukan muslim yang ditugaskan menyerang Qadisiyah. Sehari sebelum perang, Al-Khansa’ ra. Menyampaikan beberapa wasiat kepada putera-puteranya,
“Hai Putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia yang fana.
Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, bertahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat gendering perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya”.
Keesokkan harinya, mereka terjun ke medan laga dengan gagah berani. Jika ada seorang di antara mereka yang semangatnya mulai surut, maka saudara-saudaranya langsung mengingatkannya dengan nasihat Ibunda mereka yang telah tua renta, dengan begitu semangatnya berkobar kembali dan menyerbu musuh seperti singa yang mengamuk. Serangan-serangannya seperti siap melumat musuh-musuh-Nya. Mereka tetap berjuang dengan penuh semangat, hingga satu persatu berguguran menjadi syuhada.
Sebelum jatuh ke tanah dan meraih mati syahid, setiap orang dari putra Al-Khansa’ ra. Itu sempat melantunkan pernyataan yang dirangkai dalam bait-bait puisi:
Putra pertama berkata,
Saudara-saudaraku, wanita tua yang memberi nasihat itu
telah memberi nasihat kepada kita tadi malam
Nasihatnya sangat jelas dan pernyataannya lugas
Kalian akan berhadapan dalam pertempuran
Dengan bala tentara pasukan Sasan (Persia)
Mereka hanya seperti anjing yang melolong

Putra kedua berkata,
Sesungguhnya wanita tua itu
yang tekadnya bulat dan tegar itu
Telah menyuruh kita agar tetap teguh dan benar
Itulah nasihat yang menunjukkan kasih sayangnya kepada kita
Maka teruslah berperang dan habisi musuh sebanyak-banyaknya

Putra ketiga berkata,
Demi Allah, kita tidak akan melanggar sedikit pun nasihat wanita tua
Karena itu nasihat dan bukti kasih sayang yang tulus dan lembut
Kobarkan semangat perang dan serbulah pasukan musuh
Hingga kalian berhasil melumat pasukan Kisra habis-habisan

Putra keempat berkata,
Aku tidak pantas menjadi anak Al-Khansa’ dan Akhram
Aku tidak pantas menjadi orang terhormat yang membanggakan
Jika tidak berada di garis depan pasukan melawan pasukan ‘Ajam
Menyerbu tanpa rasa gentar dan melibas setiap rintangan

http://pusatbibittanaman.com/wp-content/uploads/2015/02/56.Benih-Biji-Lotus-Blue-Fairy-Import-300x291-300x291.jpg
Ketika sang Ibunda mendengar berita kematian empat puteranya dalam hari yang sama, ia sama sekali tidak menampar pipi sendiri dan tidak pula merobek pakaiannya, melainkan menerima berita duka itu dengan penuh keimanan dan kesabaran.
“Alhamdulillah yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya”, harap Al-Khansa’.
Di masa jahiliyah, Al-Khansa’ ra. Memenuhi dunia dengan tangisan dan keluh kesah atas kematian saudara kandungannya, Shakhr. Setelah ditempa oleh Islam dengan luar biasa ia sanggup merelakan empat putera kandungnya sendiri untuk meraih mati syahid dalam perang Qadisiyyah.
Ia begitu tulus dan tabah dengan pengorbanan besarnya itu demi meraih anugrah menjadi penghuni surga, karena Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra?, Rasulullah Saw. kemudian menjawab: ‘begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Ibnu Hibban dari Anas radhiyallahu’anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaami’ no 5969).
 Sumber :
Mahmud Al-Mishri, 35 Sirah Nabawiyah : 35 Sahabat Wanita Rasulullah saw., Al-I’tishom, 2012, Jakarta.
Teguh Pramono, 100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa, Diva Press, 2012, Jogjakarta.

Rep : Sarah
Red: Kholili Hasib