Selasa, 26 Juli 2016

Puisi

Sungguh, cinta sejati tak lahir dalam kejapan,
Ia lahir bukan oleh paksaan,
Sungguh, cinta sejati berjalan lambat dan pelan,
Ia berjalan dalam paduan panjang dan pancangan tiang,
Cinta sejati lahir kerna mantapnya niat, teguhnya tujuan,
Cinta sejati tak kan sirna dan pudar ikatan.

Lihatlah! Bagaimana yang tumbuh cepat,
Ia segera tumbang dan sekarat,
Lihatlah! Aku ini tanah gersang,
Tak gampang bagi tanaman tumbuh berkembang,
Tapi sekali tanaman bertahan, ia tak gampang tumbang,
Atau dirobohkan, karna akarnya kuat mencengkam

- Ibnu Hazm El-Andalusy

Kisah Pemuda dan Sebuah Apel


Rep: Afriza Hanifa/ Red: Achmad Syalaby

 

REPUBLIKA.CO.ID, Dikisahkan, beberapa abad lalu di masa akhir era Tabi’in, hidup seorang pemuda dari kalangan biasa namun saleh luar biasa. Suatu hari, pemuda yang dikisahkan bernama Tsabit bin Zutho tersebut sedang berjalan di pinggiran Kota Kufah, Irak. Terdapat sungai yang jernih dan menyejukkan di sana. Tiba-tiba, sebuah apel segar tampak hanyut di sungai itu.

Dalam kondisi yang lapar, Tsabit pun memungut apel tersebut. Rezeki yang datang tiba-tiba, sebuah apel datang tanpa diduga di saat yang tepat. Tanpa pikir panjang, ia pun memakannya, mengisi perutnya yang keroncongan. Baru segigit menikmati apel merah nan manis itu, Tsabit tersentak. Milik siapa apel ini? bisiknya dalam hati. 
Meski menemukannya di jalanan, Tsabit merasa bersalah memakan apel tanpa izin empunya. Bagaimanapun juga, pikir Tsabit, buah apel dihasilkan sebuah pohon yang ditanam seseorang. '”Bagaimana bisa aku memakan sesuatu yang bukan milikku,” kata Tsabit menyesal. 
Ia  kemudian menyusuri sungai. Dari manakah aliran air membawa apel segar itu? Tsabit berpikir akan bertemu dengan pemilik buah dan meminta kerelaannya atas apel yang sudah digigitnya itu. Cukup jauh Tsabit menyusuri aliran sungai hingga ia melihat sebuah kebun apel. Beberapa pohon apel tumbuh subur di samping sungai. Rantingnya menjalar dekat sungai. Tak mengherankan jika buahnya sering kali jatuh ke sungai dan hanyut terbawa arus air. 
Tsabit pun segera mencari pemilik kebun. Ia mendapati seseorang tengah menjaga kebun apel tersebut. Tsabit menghampirinya seraya berkata, “Wahai hamba Allah, apakah apel ini berjenis sama dengan apel di kebun ini? Saya sudah mengigit apel ini, apa kau memaafkan saya?” kata Tsabit sembari menunjukkan apel yang telah dimakan segigit itu. 
Namun, penjaga kebun itu menjawab, “Saya bukan pemilik kebun apel ini. Bagaimana saya dapat memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya? Pemilik kebunlah yang berhak memaafkanmu.” Lalu, penjaga kebun itu pun berkata, “Rumahnya (pemilik kebun apel) cukup jauh, sekitar lima mil dari sini.” 
Walau harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer, Tsabit tak putus asa untuk mencari keridaan pemilik apel. Akhirnya, ia sampai di sebuah rumah dengan perasaan gelisah, apakah si pemilik kebun akan memaafkannya. Tsabit merasa takut sang pemilik tak meridai apelnya yang telah jatuh ke sungai digigit olehnya.
Mengetuk pintu, Tsabit mengucapkan salam. Seorang pria tua, si pemilik kebun apel, membuka pintu. “Wahai hamba Allah, saya datang ke sini karena saya telah menemukan sebuah apel dari kebun Anda di sungai, kemudian saya memakannya. Saya datang untuk meminta kerelaan Anda atas apel ini. Apakah Anda meridainya? Saya telah mengigitnya dan ini yang tersisa,” ujar Tsabit memegang apel yang digigitnya. Agak lama pemilik kebun apel itu terdiam mendengar ucapan Tsabit. Lalu, Tsabit pun tersentak ketika sang tuan rumah berkata, “Tidak, saya tidak merelakanmu, Nak.” Penasaran dengan pemilik kebun apel yang mempermasalahkan satu butir apel, Tsabit menanyakan apa yang harus ia lakukan agar tindakannya itu dimaafkan. “Saya tidak memaafkanmu, demi Allah, kecuali jika kau memenuhi persyaratanku,” pria tua itu menjawab. 
“Persyaratan apa itu?” tanya Tsabit harap-harap cemas. “Kau harus menikahi putriku,” kata pemilik kebun yang mengagetkan Tsabit. Menikahi seorang wanita bukanlah sebuah hukuman, pikir Tsabit. “Benarkah itu yang menjadi syarat Anda? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri Anda? Itu adalah anugerah yang besar,” tanya Tsabit tak percaya. 
Begitu terperanjatnya Tsabit ketika pemilik kebun itu berkata bahwa putrinya yang harus Tsabit nikahi merupakan wanita cacat. “Putriku itu buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Tak mampu berjalan, apalagi berdiri. Kalau kau menerimanya maka saya akan  memaafkanmu, Nak,” kata pria tua.
Syarat yang mungkin sulit masuk di akal, hukuman yang harus ditanggung Tsabit hanya karena mengigit sebutir apel yang temukan di sungai. Namun, hal yang lebih mengejutkan, Tsabit menerima syarat tersebut karena merasa tak memiliki pilihan lain.
Sementara, ia tak ingin berdosa mengambil hak yang bukan miliknya. Tsabit, seorang pemuda tampan, harus menikahi wanita cacat hanya karena menemukan sebuah apel. “Datanglah ba’da Isya untuk berjumpa dengan istrimu,” kata pemilik kebun.
Malam hari usai shalat Isya, Tsabit pun menemui calon istrinya yang cacat. Ia masuk ke kamar pengantin wanita dengan langkah yang berat. Hatinya dipenuhi pergolakan luar biasa, namun pemuda gagah itu tetap bertekad memenuhi syarat sang pemilik apel. Tsabit pun mengucapkan salam seraya masuk ke kamar istrinya.
Betapa terkejutnya Tsabit ketika mendengar jawaban salam dari wanita yang suaranya lembut nan merdu. Tak hanya itu, wanita itu mampu berdiri dan menghampiri Tsabit. Begitu cantik paras si wanita, tanpa cacat apa pun di anggota tubuhnya yang lengkap. Tsabit kebingungan, ia berpikir salah memasuki kamar dan salah menemui wanita yang seharusnya merupakan istrinya yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh. 

Tak percaya, Tsabit pun mempertanyakan si gadis bak bidadari tersebut. Namun, Tsabit tidak salah, ialah putri pemilik kebun apel yang dinikahkan dengannya. “Apa yang dikatakan ayah tentang aku?” tanya si gadis mendapati suaminya mempertanyakan dirinya seolah tak percaya.
“Ayahmu berkata kau adalah seorang gadis buta,” kata Tsabit. 
“Demi Allah, ayahku berkata jujur, aku buta karena aku tidak pernah melihat sesuatu yang dimurkai Allah,” jawab si gadis membuat Tsabit kagum. 
“Ayahmu juga berkata bahwa kau bisu,” ujar Tsabit masih dalam nada heran. 
“Ya benar, aku tidak pernah mengucapkan satu kalimat pun yang membuat Allah murka,” kata si gadis.
“Tapi, Ayahmu mengatakan, kamu bisu dan tuli,” lanjut Tsabit. 
“Ayahku benar, demi Allah. Aku tidak pernah mendengar satu kalimat pun, kecuali di dalamnya terdapat rida Allah,” jawab gadis cantik itu. 
“Tapi, ayahmu juga bilang bahwa kau lumpuh,” pertanyaan terakhir Tsabit. 
“Ya, ayah benar dan tidak berdusta. Aku tidak pernah melangkahkan kakiku ke tempat yang Allah murkai,” ujar si gadis membuat Tsabit begitu terpesona. 
Tsabit memandangi istrinya yang cantik jelita itu. Ia pun mengucapkan syukur. Sang pemilik kebun kagum dengan sifat kehati-hatian Tsabit dalam memakan sesuatu hingga jelas kehalalannya.
Melihat kegigihan dan kesalehan Tsabit, ia pun berkeinginan menjadikannya menantu, menikahkannya dengan putrinya yang shalihah. Dari pernikahan tersebut, lahir seorang ulama shalih, mujadid yang sangat terkenal, yakni Nu’man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Abu Hanifah. Bersama istrinya yang shalihah, Tsabit mendidik putranya menjadi salah satu imam besar dari empat madzab.



Senin, 25 Juli 2016

Resep Saraba Khas Makassar

Resep Saraba Khas Makassar

Saraba adalah nama jenis minuman yang berasal dari Makasar. Minunan ini sudah sangat terkenal dan sudanyak tersedia diwilayah Makasar. Minuman saraba biasa disajikan panas atau hangat, terutama ketika anda berkunjung kepantai losari disitu akan banyak terdapat wedang saraba yang sangat cocok untuk menghangatkan tubuh pada saat cuaca sedang dingin. Wedang saraba memiliki rasa yang hampir sama dengan wedang jahe, memiliki rasa yang sedikit pedas dari jahe dan juga memiliki rasa yang segar. Selain jahe, biasanya wedang saraba dipadukan dengan susu kental manis supaya menambah rasa yang nikmat pada saat penyajiannya. resepnya sebagai berikut:


Bahan :
  • 6 keping gula aren
  • 250 gr jahe merah
  • 1 kaleng susu kental manis
  • 5 sendok makan krimer kental
  • air secukupnya


Cara Membuat Saraba Khas Makasar :
  1. kupas kulit jahe sampai tidak ada sisa sedikitpun lalu dicuci dengan air sampai benar-benar bersih
  2. setelah jahe dicuci bersih kemudian dimemarkan dengan cara digeprek kasar untuk mengambil sari jahe pada saat direbus
  3. siapkan 1 panci ukuran sedang lalu masukkan air bersih kedalam panci
  4. rebus air bersama jahe yang sudah dimemarkan tunggu sampai mendidih
  5. masukkan gula aren kedalam rebusan air jahe, aduk-aduk sampai gula larut dan tercampur rata
  6. tambahkan susu kental manis dan krimer kedalam wedang saraba, aduk rata
  7. wedang saraba khas Makasar siap untuk disajikan dan dinikmati
Cukup sederhanakan untuk Resep Cara Membuat Saraba Khas Makasar. Anda juga tidak perlu jauh-jauh datang ke Makasar untuk menikmati wedang saraba karena minuman ini sangat mudah untuk kita buat sendiri, bahannyapun sangat mudah untuk kita dapatkan.

Menyayangimu

Menyayangimu...

Setiap Untaian kata yang tertulis dalam bait-bait kata, wajahmu membayanginya,
ada senyummu disana, ada rasa yang aku tak bisa lepas darimu,
entah sampai kapan semua berakhir, namun bayangmu seakan tak mau lepas dari pikiran

hampir semua tulisan terinspirasi dari senyummu,
walau aku tau, senyummu mungkin bukan milikku,
selalu menyayangimu tanpa aku meminta sebaliknya darimu, selalu merindu dalam setiap desahan nafas,
sampai waktu yang memisahkan jiwa dari raga,
menyayangimu adalah keinginan yang tak bertepi..

Loving you..


Tak Perlu bersedih..

Tak Perlu bersedih..


 LA Tahzan, Allah selalu besama orang-orang yang sabar,
ketika cobaan terasa begitu berat, berdoalah dan mendekatlah, menangislah pada Allah,
Gantunglah semua harapan hanya pada-Nya karena Allah tak pernah mengecewakan hamba yang selalu berharap di siang dan malam-Nya..




















Bersyukur...

Bersyukur...

Rasa syukur akan terpancar dari wajah orang mukmin,
mensyukuri sekecil apapun nikmat yang didapatkan
mengikhlaskan semua yang telah pergi dan tak bisa dicapai,

Rasa syukur dan keikhlasan lahir dari kebeningan hati,
lahir dari keimanan dengan rasa percaya jika semua adalah Kehendak-Nya. Menyerahkan semua kepada sang Khalik..

Ketika Cinta Bersemi..

Ketika Cinta Bersemi..

Semakin hari wajahnya lekat dalam ingatan,
begitu banyak cerita yang tak habis terungkap
mungkin tak ada yang memahami cinta selain mereka yang merasakan
duri yang terhampar terasa perih dirasa namun cinta tak bisa terhalang..